Kamis, 20 Januari 2011

Masa Depan Bangsa ?

 ”Jâwah jannat-u-llâh fî-l-ardh”, artinya Tanah Jawa (baca: Indonesia) merupakan surga Allah di dunia. Kalimat di atas merupakan ungkapan tulus (dan bukan basa-basi) dari salah satu ulama Mesir pada tahun 1970-an di tengah-tengah kunjungannya ke Indonesia. Ketika mengungkapkan kalimat ini -secara jujur- tidak hanya sekedar mengagumi dan memuji keindahan Indonesia, tetapi ada perasaan ”iri” terhadap ”kesempurnaan” alam Indonesia tersebut. Indonesia merupakan sebuah negara dengan karunia Ilahi yang luar biasa, berupa kekayaan alam yang melimpah ruah dan hampir bisa dipastikan jarang (baca: tidak ada) negara yang kekayaan alamya seperti yang dimiliki Indonesia. Sehingga -meminjam bahasa al-Qur`an- dapat dikatakan bahwa Indonesia merupakan pengejawantahan dari baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafûrun.
Itu doeloe, ketika bangsa Indonesia belum menyandang status kufr al- ni`mah (meminjam istilah Q.S. al-Nahl 112).Akan tetapi, ketika kufr al- ni`mah melanggar batas kewajaran, sumber daya alam yang didapat dengan Cuma-Cuma tersebut tidak dikelola secara benar, eksploitasi hasil tambang dan pembakaran hutan yang berorientasi kepada materi dan keuntungan belaka, korupsi yang semakin berakar, pembodohan terhadap rakyat menjadi-jadi dan pelanggaran-pelanggaran terhadap hukum alam (sunnat-u-llah) juga tidak terhitung, maka ”surga” itu telah berubah menjadi neraka yang mengerikan yang menyediakan berbagai macam menu ”adzab” dan bencana, kekeringan, kelaparan, pemerasan, tidak ada lagi kenyamanan dan ketenangan surgawi sebagaimana yang digambarkan dalam ungkapan jawa gemah ripah loh jinawi, tata tentren kerta raharja, jer besuki mawa bea, sehingga masa depan kita dan generasi bangsa menjadi tidak jelas.  

Dekonstruksi Sejarah
Sebenarnya melalui kajian historis-sosiologis, secara nakal kita dapat menyimpulkan bahwa karakter main stream bangsa Indonesia (baca: Pemimpin bangsa Indonesia seperti presiden, wakil presiden, Anggota Dewan dst) saat ini yang terkesan sangat rakus dan materialis tersebut adalah ”peninggalan” Nenek Moyang bangsa Indonesia sendiri, dan tanpa disadari karakter tersebut dituangkan ke dalam buku sejarah yang diajarkan kepada anak didik sejak dini usia. Dengan tidak mengurangi rasa hormat atas jasa-jasa para sesepuh dan pendahulu kita, kalau dikaji lebih mendalam lagi, semangat persatuan dan kesatuan yang dituangkan dalam Sumpah Palapanya Gajah Mada hanya sekedar alasan untuk kepentingan perluasan daerah binaan (baca: kekuasaan) sehingga in come kerajaan yang diperoleh dari upeti, pajak dan pungutan lainya akan semakin banyak. Terbukti bahwa kemapanan ekonomi dan akses pendidikan hanya dimiliki oleh keluarga kerajaan, sedangkan rakyat biasa banyak yang hidupnya berada di bawah garis kemiskinan dan kebodohan. Karakter warisan sejarah tersebut pada akhirnya menjadi karakter kolektif bangsa Indonesia mayoritas. Tidak terkecuali para pejabat pemerintahan.  
Gajah Mada dan Sumpah Palapanya tersebut adalah satu dari sekian banyak sisi gelap sejarah Indonesia, masalah penyelewengan seksual para raja, perebutan kekuasaan, pembunuhan adalah bagian lain dari khazanah sejarah Indonesia yang sedikit banyak secara psikologis mempunyai pengaruh negatif terhadap karakter bangsa itu sendiri, yang secara gamblang semuanya tertuang dalam buku-buku sejarah yang luhur (baca: kramat) baik yang menjadi buku paket pada sekolah-sekolah dasar dan menengah atau yang hanya berfungsi sebagai buku rujukan saja. Karakter warisan ini, secara kasat mata bisa dilihat pengaruhnya pada tingkat kepedulian dan kepekaan diri para pejabat khususnya terhadap wawasan dan nilai-nilai kemanusian. Kalau tidak karena pertimbangan keuntungan materi yang menggiurkan, tidak mungkin Presiden menggadaikan sumber daya alam Indonesia kepada pihak asing selama 95 tahun, Anggota Dewan yang seharusnya memperjuangkan kepentingan rakyat ternyata waktu sidangnya dihabiskan untuk membahas kenaikan gaji, tunjangan rumah dinas, tunjangan telekomunikasi, rapelan dan yang terakhir gonjang-ganjing laptop (thukul syndrom), sementara rakyat yang merekomendasikan mereka menjadi anggota dewan banyak yang hidup di bawah standar batas kewajaran hidup. Mereka yang menjadi wakil rakyat dipilih dengan ”hati nurani”, ternyata tidak memiliki ”hati nurani”.
Sejarahwan selalu menganjurkan kita untuk belajar dari sejarah, tetapi terbukti sejarah Indonesia secara tekstual dam kontekstual tidak banyak mempengaruhi sisi kemanusiaan para warganya. Sejauh mana kebenaran sejarah Indonesia ini?, ada rekayasa politik dalam penulisan sejarah Indonesia? Dan ada seribu macam pertanyaan tentang keberadaan sejarah Indonesia. Maka diperlukan semacam gerakan pencerahan terhadap substansi sejarah Indonesia, dengan cara membongkar (dekonstruksi) hal-hal yang diaggap tabu, untuk kemudian merekonstruksi pemahaman yang lebih fresh tentang sejarah itu. Sehingga sejarah mampu berperan sebagai nakâlan dan maw`idzatan (Q.S. al-Baqarah : 66).    
Indonesia Tahun 2020  
Di tengah carut-marutnya kepemimpinan nasional dan lenyapnya wawasan kemanusian para pejabat, serta hilangnya rasa kepercayaan dari masyarakat kepada pemimpinnya, Pemerintah Indonesia masih mempunyai agenda ”kebangsaan” ke depan yang sangat berat; mulai dari program bebas polio, Pasar Global, Pendidikan Gratis, Pengobatan Gratis, bebas korupsi, sampai dengan Swa Sembada Pangan, belum lagi program restrukturisasi dan revitalisasi korban bencana . . . Begitu banyak asumsi dan penilaian pengamat (baik yang pro dan yang kontra) terhadap program pemerintah tersebut; tebar pesona, cari sensasi . . . tetapi yang jelas kondisi bangsa Indonesia pada tahun-tahun mendatang (2010, 2020, 2030 . . .) -kayaknya- tidak akan lebih baik dari tahun ini. Artinya bahwa bangsa Indonesia harus bersiap untuk menghadapi situasi yang lebih parah pada puluhan bahkan ratusan tahun kedepan dari apa yang dialami pada tahun-tahun sebelumnya. Meskipun terjadi pergantian presiden, reshuffle kabinet, karena pada hakekatnya oknum yang mengganti dan oknum yang diganti tidak jauh berbeda, setali tiga uang, yang karakter, gaya berpikir serta mentalnya sama. Maka dapat diperkirakan bangsa besar ini akan makin terpuruk ke jurang musibah multidimensional yang lebih parah. Mensikapi kerusakan hutan saja, para ahli kehutanan menyatakan bahwa kerusakan hutan yang paling ringan untuk merehab tanahnya dibutuhkan waktu sekitar tiga puluh tahun, sementara untuk yang parah diperlukan waktu lebih dari empat ratus sampai lima ratus tahun. Ini kerusakan hutan yang bisa dikalkulasi secara matematis. Maka bisa dibayangkan, berapa waktu yang dibutuhkan untuk merehabilitasi kerusakan mental dan karakter sebuah bangsa?.  
Kekhawatiran terhadap masa depan bangsa ini akan banyak berubah kalau masing-masing dari pejabat pemerintah (atau mungkin kita) tidak enggan melakukan pendekatan teologis terhadap situasi dan kondisi yang selama ini berjalan. Artinya bahwa bangsa ini harus memilih di antara dua pilihan : mencari ridho Allah atau mencari ridho sesama makhluq. Kalau mencari ridho Allah, harus ada perubahan, penyegaran dan pembaruan terhadap status quo dan kemapanan, dengan malakukan revisi, reevaluasi dan reformasi terhadap sistem politik, sosial dan ekonomi yang ada dan sekaligus melakukan kembali suksesi kepemimpinan nasional yang jujur, transparan dan bertanggung jawab dengan mengedepankan kepentingan bangsa di atas kepenttingan pribadi, keluarga atau kelompok tertentu. Kalau hanya mencari ridho sesama manusia; Asal Babe Senang . . ., maka dapat dipastikan Indonesia akan semakin terpuruk.   
Kudeta : Solusi Terbaik 
Terlepas dari subjektifitas seseorang dalam menilai; antara pro dan kontra, antara like dan dislike, antara kawan dan lawan, secara objektif mungkin bisa dikatakan bahwa sampai saat ini belum ada tokoh nasional yang mempunyai komitmen, konsistensi, karakter dan political will seperti M. Amin Ra`is. Sehingga tidak terlalu berlebihan apabila Kuntowijoyo mengatakan bahwa Indonesia sangat beruntung mempunyai sosok semacam M. Amin Ra`is yang suka matur wantah alias berani bicara blak-blakan; tidak sekedar blak-blakan saja tapi juga punya visi ke depan.. Untuk itu, M. Amin Ra`is perlu mendapat kesempatan untuk memimpin bangsa ini pada pilpres yang akan datang, membangun pemerintahan yang bersih, dan berwibawa, memberantas segala bentuk KKN, memperjuangkan kepentingan-kepentingan bangsa serta mengedepankan kejujuran, kebersamaan dan keterbukaan.
Kalau saja masyarakat ”dipaksa” untuk mempertahankan status quo dan Pak Amin merasa yakin mampu membantu bangsa ini keluar dari kungkungan bencana dan krisis multidimensional ini dengan konsepnya, mengapa tidak berpikir untuk melakukan kudeta yang anggun (damai tidak berdarah), sebagaimana yang dilakukan Mu`awiyah bin Abi Sufyan terhadap Ali bin Abi Thalib ketika membentuk Daulah Umawiyyah?, karena tujuh tahun yang akan datang bukan usia yang ideal bagi M. Amin Ra`is untuk menjadi presiden; sedangkan untuk menemukan sosok beliau pada generasi bangsa saat ini atau membentuk pribadi-pribadi semacam beliau, membutuhkan waktu dan proses yang relatif panjang, kalau tidak boleh dibilang mustahil. (ditulis sebelum pemilu 2004)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

*

Islam Mosque

Silaturrahmi...


ShoutMix chat widget

Kegiatan MAM 02